Pembentukkan Tatasurya
Pembentukkan Tatasurya Dalam Sains
Pembentukan dan evolusi tata surya dimulai pada 4,6
miliar tahun lalu ketika sebagian kecil awan molekul raksasa mengalami
peluruhan gravitasi. Sebagian besar materi hasil peluruhan tersebut berkumpul
di tengah, membentuk Matahari, sedangkan sisanya memipih menjadi cakram
protoplanet yang kemudian membentuk planet, satelit alami, asteroid, dan benda
kecil Tata Surya.
Tata Surya telah berevolusi secara signifikan sejak
awal pembentukannya. Banyak satelit alami terbentuk dari piringan gas dan debu
yang berputar mengelilingi planet induknya, sedangkan satelit alami lainnya
diperkirakan terbentuk dengan sendirinya dan kemudian ditangkap oleh planetnya.
Sementara yang lainnya, seperti satelit Bumi, Bulan, kemungkinan merupakan
hasil dari tubrukan raksasa. Tubrukan yang terjadi di antara benda-benda langit
masih terus terjadi sampai saat ini dan telah menjadi pusat evolusi Tata Surya.
Posisi planet mungkin dapat bergeser karena adanya interaksi gravitasi. Migrasi
keplanetan tersebut saat ini diperkirakan bertanggung jawab atas sebagian besar
evolusi awal Tata Surya.
Kira-kira dalam 5 miliar tahun ke depan, Matahari akan
mengalami pendinginan dan mengembang hingga berkali-kali lipat diameternya saat
ini (menjadi sebuah raksasa merah), sebelum menghilangkan lapisan luarnya dan
membentuk nebula planeter, dan meninggalkan sebuah sisa bintang yang dikenal
sebagai katai putih. Jauh di masa depan, gravitasi bintang mati perlahan-lahan
akan mengurangi planet yang mengiringi Matahari. Beberapa planet akan hancur,
sementara yang lainnya akan terlontar ke ruang antarbintang. Pada akhirnya,
dalam puluhan miliar tahun ke depan, Matahari diperkirakan tidak akan memiliki
satu pun objek yang mengorbit di sekitarnya.
Pembentukkan Tatasurya Dalam Al-Qur’an
Pembentukan alam semesta dalam enam masa, sebagaimana
disebutkan Al-Qur’an atau kitab lainnya, sering menimbulkan permasalahan.
Sebab, enam masa tersebut ditafsirkan berbeda-beda, mulai dari enam hari, enam
periode, hingga enam tahapan. Oleh karena itu, pembahasan berikut mencoba
menjelaskan maksud enam masa tersebut dari sudut pandang keilmuan, dengan
mengacu pada beberapa ayat Al-Qur’an.
Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan
enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 di atas tampaknya dapat menjelaskan
tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan
ayatnya, sehingga kira-kira dapat diuraikan sebagai berikut:
”Apakah
kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya {27} Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya {28} dan Dia menjadikan malamnya
gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang {29} Dan bumi sesudah
itu dihamparkan-Nya {30} Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan
(menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya {31} Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan
teguh {32} (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu
{33}”(Q.S. An-Nazi’at: 27-33)
Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari
ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti
dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit.
Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan
tersebut , terdiri dari hidrogen. Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk
ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur
dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti
sebagian atom hidrogen. Sebagian hidrogen yang lain berubah menjadi energi
berupa pancaran sinar infra-red. Perubahan wujud hidrogen ini mengikuti
persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan massa atom
hidrogen yang berubah.
Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub
dukhan, menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan
yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi . Bintang-bintang
dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi, menghasilkan struktur
filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal
sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi
awan debu (dukhan) yang terbentuk akibat big bang hembusan angin bintang dari
kedua kutubnya galaksi yang terbentuk dari piringan bintang-bintang dan gas-gas
pembentuknya struktur filamen dari alam semesta yang bagaikan kapas.
Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan
Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan
bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” dianalogikan dengan
alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan
langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin
mengembang, dimana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut
mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauhi model roti kismis
untuk menggambarkan mengembangnya alam semesta.
Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah
kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang,
melainkan proses pengembangan alam semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek
doppler sederhana, dapat diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang,
yaitu sekitar 13.7 miliar tahun.
Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa
alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus
berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Alam
semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.
Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi reaksi nuklir yang menjadi sumber energi bintang seperti Matahari
Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah
menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat
tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya
dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata
surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang relatif kecil, kira-kira
sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi seperti di
atas, hanya ukurannya lebih kecil.
Seperti halnya matahari, sumber panas dan semua unsur
yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya (gambar 3). Lain
halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianya pun mirip
dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa Bulan
adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi masih lunak. Lontaran ini terjadi
karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar
(sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan
akibat reaksi nuklir pada Bulan itu sendiri.
Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat
diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi. Masa III
hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang
artinya,[i] “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan
bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’ (Yang bersifat)
demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Daratan Pangaea yang merupakan asal
mula semua daratan di Bumi.
Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet ilustrasi komet yang membawa unsur hidrogen sebagai pembentuk air di Bumi
Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi
belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan
evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air.
Jadi, darimana datangnya air? Air diperkirakan berasal
dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur
hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan
membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti
bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air
laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang
massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya. Karena semua kehidupan
berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama berupa tumbuhan
bersel satu pun mulai muncul di dalam air.
Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia gunung sebagai pasak Bumi
Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung
dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan
daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung
terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai
terpecah.
Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah
hewan dan akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi,
usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka
empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat
Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan dia menciptakan di bumi itu
gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan
padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu
sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”.
Jika ada kekurangan maupun kesalahan dalam penulisan saya, tolong berikan kritik dan masukan. Sekian terima kasih.
https://www.stainidaeladabi.ac.id/penciptaan-alam-semesta-menurut-al-qur-an
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembentukan_dan_evolusi_Tata_Surya
Komentar
Posting Komentar