ALAM PIKIRAN MANUSIA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
A. ALAM PIKIRAN MANUSIA
Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Ia tak pernah terlepas dari situasi di mana ia tinggal dengan siapa ia berelasi dan bagaimana ia bertahan hidup. Dalam konteks inilah manusia dibentuk menjadi manusia yang berbudaya. Ia dibentuk dan dididik menurut kebiasaan setempatnya. Dalam sejarah peradaban manusia mulai dari tingkat primitif sampai modern, manusia juga mengalami perkembangan alam pikir.
Perkembangan alam pikir manusia merupakan suatu proses dimana manusia tidak akan puas dengan pemikiran yang sudah ada sehingga berkembang ke tahap ilmu. Penalaran adalah suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan atau proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Rasa ingin tahu yang dimiliki manusia, menyebabkan alam pikiran manusia berkembang. Ada dua macam perkembangan yang dapat kita ketahui, sebagai berikut.
1. Perkembangan Alam Pikiran Manusia Sejak Dilahirkan Sampai Akhir Hayatnya
Alam pikiran seorang bayi yang baru dilahirkan, mengalami perkembangan yang hampir serupa dari zaman ke zaman. Ketika bayi tumbuh menjadi anak kecil yang mulai bisa mengamati lingkungan, muncul bermacam-macam pertanyaan di dalam pikirannya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anak kecil mengadakan penyelidikan sendiri atau bertanya kepada ibu, ayah, kakak atau orang lain yang mengasuhnya. Alam pikiran anak berkembang dengan pesat. Rasa ingin tahu seorang anak akan melemah, apabila orang-orang di sekelilingnya terlalu sibuk, terlalu malas atau terlalu bodoh untuk memuaskan rasa ingin tahu anak tersebut. Dengan demikian, perkembangan alam pikiran anak akan terhambat. Alam pikiran manusia semakin berkembang sesuai dengan peningkatan umurnya, sampai pada suatu saat di mana umurnya semakin tua akan terjadi penurunan daya ingat sehingga alam pikiran manusia tidak lagi berkembang, tetapi berhenti bahkan sering kali kembali seperti masa kanak-kanak.
2. Perkembangan Alam Pikiran Manusia Sejak Zaman Purba Hingga Dewasa Ini
Pada zaman purba, manusia sudah menghadapi berbagai teka-teki yakni terbit dan terbenamnya matahari, perubahan bentuk bulan, pertumbuhan dan pembiakan makhluk hidup, adanya angin, petir, hujan, dan pelangi. Terdorong rasa ingin tahu yang sangat kuat, manusia purba mulai menyelidiki apa penyebab terjadinya fenomena-fenomena itu dan apa akibatnya. Penyelidikan ini menghasilkan jawaban atas banyaknya persoalan, tetapi kemudian akan timbul persoalan-persoalan baru. Dengan demikian, alam pikiran manusia purba mulai berkembang.
Perkembangan itu berlangsung terus sampai sekarang dan akan berlanjut di masa mendatang. Meskipun semua orang memiliki rasa ingin tahu, tetapi tidak setiap orang mampu dan mau mengadakan penyelidikan sendiri. Banyak yang sudah merasa puas dengan memilih jalan pintas yakni bertanya kepada orang lain yang telah menyelidiki atau bertanya kepada orang lain yang sudah bertanya. Jadi, dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya. Cara melalui jalan pintas ini pun menyebabkan alam pikiran manusia berkembang. Pengetahuan yang terkumpul diwariskan dari generasi ke generasi, lalu ditambah dengan pengetahuan yang baru didapat.
B. ILMU PENGETAHUAN
C. HUBUNGAN PERKEMBANGAN ALAM PIKIR MANUSIA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Relevansi penelitian dengan ilmu pengetahuan, berkembang
dari upaya manusia mencari jawaban atas berbagai pertanyaan seperti “ini apa?”;
“itu apa?”; “mengapa begini?”; “mengapa begitu?” dan selanjutnya berkembang
menjadi pertanyaan “bagaimana hal itu terjadi?” serta “bagaimana
memecahkannya?”. Dengan dorongan ingin tahu tersebut manusia selalu ingin
mendapatkan pengetahuan mengenai permasalahan yang tidak diketahuinya sehingga
pada akhirnya muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang dikenal sebagai ilmu
pengetahuan (knowledgement) yang sistematis dan terorganisir. Dengan
mengguanakan akal dan pikiran yang reflektif, manusia merasa mampu memecahkan
masalah yang dihadapi.
Dalam sejarah peradaban manusia mulai dari tingkat primitif
sampai modern, manusia juga mengalami perkembangan. Perkembangan itu berawal
dan menuju suatu bentuk atau pola kebiasaan yang lebih manusiawi. Bila dahulu
manusia tidak berpakaian, pada zaman ini manusia sudah menggunakan berbagai
jenis pakaian. Bila dahulu manusia percaya pada kisah-kisah mitos, sekarang
manusia percaya pada pikirannya. Manusia semakin berkembang dalam kebudayaannya
sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.
Perkembangan ini dilihat oleh Van Peursen sebagai sebuah
pergeseran kebudayaan. Dalam bukunya yang berjudul strategi kebudayaan, ia
berbicara tentang perkembangan kebudayaan. Bahwasanya, perkembangan kebudayaan
manusia dipengaruhi oleh cara pikir manusia (alam pikiran manusia). Alam
pikiran manusia itu yang membentuk suatu kebudayaan yang baru yang merupakan
pergeseran dari yang lama. Perkembangan atau pergeseran memiliki dua dimensi
yaitu kontinuitas dan diskontinuitas. Kontinuitas berarti perkembangan itu
tidak sama sekali memutuskan yang lama tetapi, perkembangan itu didasarkan pada
kebiasaan yang lama atau sebelumnya. Diskontinuitas berarti yang kebiasaan yang
lama itu diganti dengan kebidanan yang baru.
Menurut Van Peursen ada tiga bentuk alam pemikiran manusia.
Ketiga alam pemikiran itu antara lain: alam pikiran mitis, alam pikiran
ontologis dan alam pikiran fungsional.
Tahap ontologis adalah tahap di mana manusia mulai
menganalisis alam. Pada tahap ini manusia mulai bertanya tentang dunia. Manusia
yang tidak lagi ada dalam lingkaran kekuasaan mitis, tetapi secara bebas ingin
meneliti segala hal ihwal. Dalam tahap ini manusia mulai mengambil jarak
terhadap segala sesuatu yang dirasakan mengepung dirinya. Keadaan manusia dalam
alam pikiran mitis masih terkungkung dalam lingkaran dunia. Di mana dalam alam
pemikiran mitis, manusia takut terhadap dunia dan merasa inferior berhadapan
dengan dunia.
Akan tepi sebaliknya, dalam level ontologis manusia keluar
dari kungkungan dunia mitis. Ia berusaha mencari dan menemukan jawaban tentang
“ada”. Manusia berusaha mencari pengertian tentang apa yang dialaminya. Ia
merenung dan merefleksikan hidupnya berhadapan dengan dunia yang dialaminya.
Manusia merenungkan tentang peristiwa-peristiwa, benda-benda dan seluruh aspek
hidupnya. Dan permenungan ini tidak lain merupakan permenungan tentang “ada”
itu sendiri. Pada konteks ini, manusia mengalami perkembangan. Perkembangan itu
ialah sebuah pergerakkan dari “Mitos” ke “logos”. Perkembangan dari mitos ke
logos ini membuat manusia bisa bertanya dan mencari pengertian tentang dunia
dan dirinya. Ia menggunakan pikirannya untuk menemukan pengertian tentang
“ada”. Namun dalam tahap ini memang manusia tidak hanya melulu berpikir secara
logis, tapi emosi dan harapan juga bermain juga agama dan keyakinan tetap
berpengaruh bagi kehidupannya.
Pertanyaan yang diajukan dalam alam pikiran ontologis adalah
tentang dunia transenden, tentang kebebasan manusia, pengertian mengenai
kehidupan, dan hal-hal yang bersifat eskatologis. Dari pertanyaan-pertanyaan
itu manusia memperoleh pengertian tentang dunia dan dirinya. Dengan demikian,
dalam alam pikiran ontologis ini, manusia berusaha memperoleh pengertian
mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Alam pikiran
seperti ini membebaskan manusia dari lingkaran mitologis. Alam pikiran
ontologis berani hidup dalam ketegangan jarak dengan mitologis. Pada tahap ini
manusia mengambil jarak (distansi) dengan dunia.
Alam pemikiran ontologis ini memiliki fungsinya dalam
perkembangan hidup manusia. Salah satu contohnya ialah sejarah perkembangan
pemikiran dunia barat. Alam pikiran barat mempunyai ciri khas tersendiri yaitu
tempat munculnya ilmu pengetahuan. Lahirnya ilmu pengetahuan merupakan akibat
langsung dari refleksi manusia tentang alam dan dirinya.
Alam pemikiran ontologis memiliki bentuk atau akibat
negatifnya. Efek negatif yang ada pada tahap ini disebut dengan
Substansialisme. Substansialisme adalah sesuatu yang dapat berdiri sendiri,
yang mempunyai landasan sendiri dan tidak perlu bersandar pada sesuatu di
luarnya. Sehingga segala sesuatu yang pada mulanya tumbuh bersama kini mulai
terpisah-pisah dan terputus, muncul adanya kelompok-kelompok di masyarakat,
kehidupan manusia ditandai dengan adanya sekat-sekat. Substansialisme berarti
segala sesuatu yang tidak bernilai, tidak ada hakekatnya harus dimusnahkan
karena tidak sesuai dengan pencapaian yang ingin dituju oleh ontologis.
Alam pikiran ontologis ini tentu memiliki pengaruh dalam
sejarah perkembangan hidup manusia. Salah contohnya ialah munculnya ilmu
pengetahuan dalam sejarah perkembangan pemikiran barat. Dan dalam koteks
Indonesia alam pemikiran ontologis ini tentu memiliki relevansinya. Masyarakat
Indonesia juga mengalami tahapan perkembangan pemikiran ontologis.
Dalam konteks Indonesia, pemikiran ontologis tampak dalam
perubahan cara berpikir. Dahulu, banyak masyarakat yang melihat bahwa letusan
gunung api, banjir atau bencana alam lainnya merupakan akibat kemarahan dari
sang pencipta. Sehingga, tak jarang ditemukan pelbagai bentuk kegiatan ritual
untuk melakukan pendamaian dengan sang pencipta. Maka diadakan upacara
pemberian sesajian atau ritual lainnya untuk meredam kemurkaan sang pencipta.
Namun dalam tahap perkembangan selanjutnya, masyarakat mulai
menyadari dan mengerti bahwa bencana merupakan konsekuensi logis bila manusia
tidak memelihara dan bertanggung jawab terhadap alam. Karena itu dengan bantuan
pikirannya, manusia berpikir logis tentang dirinya dan alam. Dengan demikian
bencana alam dilihat sebagai sebuah fenomena atau kejadian alam dan bukan
bentuk kemarahan dari sang pencipta.
Indonesia adalah negara yang multikultural. Di samping itu
Indonesia adalah negara kepulauan; di mana terdapat ribuan pulau dari Sabang
sampai Marauke. Indonesia bukan hanya Jawa; Indonesia bukan hanya Kalimantan
atau Bali. Indonesia juga bukan hanya orang Islam atau katolik. Indonesia
adalah keseluruhan. Indonesia adalah bangsa Indonesia. Keadaan ini lantas tidak
membuat Indonesia hidup terkotak-kotak. Meskipun diwarnai keanekaragaman,
Indonesia tetap satu. Meskipun berbeda-beda tetapi satu juga (Bhineka Tunggal
Ika). Meskipun beda agama, bangsa Indonesia percaya pada Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Kritikan terhadap alam pemikiran ontologis di Indonesia berkaitan dengan eksploitasi terhadap alam. Dahulu, Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya. Akan tetapi, realitas sekarang ini menunjukkan bahwa alam Indonesia berada di ambang kehancuran. Hal ini disebabkan oleh gaya pikiran yang melihat alam sebagai objek. Di sini terjadi kesenjangan (distansi) antara manusia dan alam. Oleh karena ilmu pengetahuan, manusia (masyarakat Indonesia) mengeksploitasi alam demi kepentingan dirinya sendiri.
sumber :
https://raharja.ac.id/2020/11/19/ilmu-pengetahuan/
https://www.uin-malang.ac.id/blog/post/read/100301/penelitian-dan-pengembangan-ilmu-pengetahuan.html
https://www.kompasiana.com/sentosarnando/560f63604ff9fd2e05eb86e1/alam-pikiran-manusia
Komentar
Posting Komentar